Kabar Terkini

Iklan

Iklan

EKONOMI

Bogor Raya

Advertising

Iklan

Subscribe Here

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pelaku LGBT Kian Merebak, Sultan Brunei Tetapkan Hukum Rajam Bagi Pelakunya.

Dibaca 0 kali


Oleh : Luthfina Muzayyanah (Penulis buku, Pemerhati social dan Remaja)

Tanggal 3 April 2019, Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah menetapkan undang-undang baru terkait hukuman bagi para pelaku Lesbian Gay Bisexual dan Transgender (LGBT) di negaranya. Kebijakan itu juga akan berlaku pada kaum non-Muslim. Hukum tersebut akan berlaku bagi pelaku sodomi, perzinahan, pemerkosaan. Mereka yang dinyatakan bersalah atas kejahatan-kejahatan tersebut terancam dihukum rajam dan cambuk hingga mati, sama seperti pelaku pencurian dan pembunuhan. Kesultanan Brunei Darussalam mempunyai alasan untuk menerapkan hukum cambuk hingga rajam sampai mati terhadap kaum penyuka sesama jenis atau lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurut mereka hal itu demi melindungi dan mendidik warganya. "Undang-undang (syariah), selain mengkriminalkan dan menghalangi tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam, juga bertujuan untuk mendidik, menghormati, dan melindungi hak-hak yang sah dari semua individu, masyarakat, dari setiap agama dan ras," demikian bunyi pernyataan kantor Sultan sekaligus Perdana Menteri Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, seperti dikutip Reuters pada Selasa (2/4) (CNN Indonesia).

Pernyataan itu dilontarkan Brunei menyusul kritikan hingga kecaman yang muncul atas penolakan terhadap penerapan hukum syariat Islam tersebut. Aturan ini memicu kecaman dari global, terutama negara Barat yang sangat mengutamakan hak asasi manusia seperti Amerika Serikat dan Eropa. Kebijakan ini pun menuai protes hingga bedampak pada pariwisata. Hotel-hotel di Brunei kena imbasnya pula. Hotel mewah milik Brunei Darussalam yang berada di Inggris, Dorchester Hotel, didemo ratusan orang. Para demonstran yang didominasi para aktivis pembela hak-hak gay menganggap Sultan Hassanal meniru kelompok Islamic State (ISIS) di Irak dan Suriah karena memberlakukan hukuman seperti itu. Massa juga mendesak Angkatan Udara dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris memutuskan hubungan dengan Sultan Brunei. Demo yang berlangsung Sabtu sore itu memaksa aparat polisi untuk berdiri di depan pintu hotel untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan.

Lebih dari 100 orang datang dengan membawa bendera pelangi, spanduk dan plakat berisi kecaman terhadap Sultan Hassanal."Shame on you (Malu pada Anda), " teriak para demonstran di luar hotel mewah di Park Lane. Demo dipimpin oleh aktivis pembela hak-hak gay, Peter Tatchell. (dikutip The Guardian, Minggu (7/4/2019). Protes itu juga menyerukan agar dua gelar kehormatan yang diberikan Ratu Inggris kepada Sultan Hassanal dilucuti. Sultan mendapat gelar sebagai marsekal di Angkatan Udara dan laksamana di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Demo muncul setelah Menteri pertahanan Gavin Williamson meminta Brunei memberikan jaminan kepada pasukan gay Inggris di negara untuk tidak terkena dampak undang-undang baru yang mulai diberlakukan sejak 3 April lalu.

Brunei memang mengadopsi syariat Islam dalam sistem hukum pidana. Aturan baru ini bukan cuma mengatur soal LGBT. Pemerintah Brunei bisa menghukum denda hingga penjara warganya yang tidak salat Jumat dan hamil di luar nikah. Di masa lalu, penyuka sesama jenis di negara dengan 400 ribu penduduk itu bisa dihukum penjara selama sepuluh tahun.  Namun, setelah revisi, para pelaku sodomi, pemerkosaan, dan pasangan bukan suami istri yang berhubungan intim atau bermesraan bisa dihukum cambuk sampai dilempari batu hingga meninggal. Brunei, yang merupakan bekas protektorat Inggris, menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang melarang praktik hubungan sesama jenis, selain Myanmar, Singapura, dan Malaysia. Sedangkan di Indonesia, meski tidak ada aturan tegas mengatur LGBT dan kelompok minoritas itu selalu menjadi target persekusi.

Hukum Islam adalah Hukum  Paling Tegas Lagi Menjerakan.
            
Hal ini seharusnya tidak dipermasalahkan, mengingat Brunei adalah Negara dengan mayoritas kaum muslimin. Islam sendiri telah sempurna. Aturan dan hukum yang Allah turunkan untuk diterapkan seluruh manusia adalah hukum paling adil dan tegas. Sesungguhnya kisah kaum LGBT dalam Alquran diwakili oleh kaum Sodom. Mereka adalah manusia-manusia yang hidup pada zaman Nabi Luth. Mereka hidup bebas secara seksual, bahkan orang yang tidak mendukung kehidupan kaum ini akan dicemooh sebagaimana Nabi Luth. Hingga suatu hari Nabi Luth kedatangan tamu laki-laki berparas tampan. Tamu itu dirahasiakan, sebab sang nabi takut kalau-kalau mereka akan menjadi korban kebengisan kaumnya.

Sejak hari itu kaum Sodom ditimpa bencana dahsyat berupa letusan gunung yang membuat seluruh penghuninya menjadi batu. Bahkan termasuk istri sang Nabi, meski ia bukan pelaku, melainkan hanya pendukung, tapi tetap saja ia menjadi bagian dari mereka yang terkena hukuman. Kaum Sodom lenyap dalam sehari ditimpa bencana dahsyat yang tak mampu mereka tampik. “Barang siapa di antara kalian yang mendapati pelaku perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan Syaikh Al-Albani).

Berdasarkan hadis di atas, nyata terbukti bahwa setelah dilenyapkan oleh Allah pada masa Nabi Luth, rupanya masih ada beberapa bagian dari kaum ini yang akhirnya muncul pada masa Rasulullah. Hingga suatu masa pernah seorang sahabat mengirim surat kepada Abu Bakar, bahwasanya ada pelaku homoseksual di suatu daerah. Kemudian Abu Bakar bersama dengan para petinggi lain bermusyawarah mengenai hukuman apa yang akan diberikan kepada pelaku homoseksual ini. Ada yang mengatakan dibakar dengan api, dilempar dari tebing tinggi, dan ada juga yang mengatakan dihujani batu hingga tewas. Intinya hukuman bagi para pelaku LGBT dimasa Rasulullah adalah dengan hukuman mati. Hal ini adalah hukuman yang sepadan atas tindakan amoral yang dilakukan kaum tersebut.

Namun disistem kapitalis seperti ini, hukum islam begitu direndahkan. Ketegasan hukum Allah dikatakan pelanggaran HAM yang sangat disanksikan. Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres salah satu yang mengkritik keras undang undang baru Brunei Darusslaam. Baginya pemberlakuan hukuman mati bagi kaum LGBT dengan cara dirajam ini jelas pelanggaran HAM. Namun, kemanakah HAM untuk warga kaum muslimin lainnya? Mereka yang terus terusan dibantai, digenosida, dan diluluh lantakan. Semisal di Palestina, Uyghur, Afganistan, Kashmir, Yaman, dan negara-negara Muslim lainnya. HAM hanya diteriakkan untuk kasus LGBT, tidak pernah diteriakkan untuk setaip nyawa anak anak muslim yang melayang karena serangan barbar kaum kafir. HAM yang diteriakkan PBB Hanya alat legitimasi untuk penjajah barat mengokohkan nilai-nilai sekuler yang merusak hasil ciptaan mereka, dan melupakan Hak Asasi Manusia yang memang harus dijaga. Hukum Islam adalah hukum yang mampu mensejahterakan masyarakatnya, dan ini bukanlah sebuah fiksi atau ilusi. Ini pernah dibuktikan dengan berkuasanya Negara Islam diseluru penjuru dunia, bahkan dapat menaungi 2/3 belahan bumi dengan begitu adil. Politik hanya mampu dilawan dengan politik pula. Maka mari kita lawan politik penjajah barat dengan politik islam yang bersih. Politik Islam yang bersih hanya mampu diterapkan dalam sebuah institusi Negara yang dapat menopangnya. Dengan adanya institusi Negara yang menerapkan plitik islam yang bersih dan suci inilah HAM akan benar benar dapat diterapkan untuk seluruh masyarakat secara merata dan menciptakan keadilan dan kedamain bagi seluruh mahluk penghuni dunia.
Wallahu A’lam bish Showwab.

Berikutnya
« Prev Post
Artikel Sebelumnya
Next Post »