Kabar Terkini

Iklan

Iklan

EKONOMI

Bogor Raya

Advertising

Iklan

Subscribe Here

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Perdana, Pegelaran Wayang Kulit Di SMPN 88 Jakarta

Dibaca 0 kali

Jakarta - Di tengah maraknya budaya modern dan masuknya budaya barat, budaya Jawa semakin terpinggirkan. Untuk tetap mempertahankan warisan budaya Indonesia, seni pertunjukan wayang kulit membuat kagum  masyarakat perkotaan.

Digelar di SMP Negeri 88 Jakarta, pertunjukkan wayang kulit ini tak hanya mendapat sambutan meriah, namun membuat para penonton lebih mengenal keragaman budaya Tanah Air, Jumat (8/3/2019)
Pagelaran wayang kulit dan musik gamelan semalem suntuk dengan  Dalang “Ki Waluyo”, lakon “Petruk Ilang Pethele” dimulai pukul 10.00 WIB malam, sebagai bentuk rangkaian acara peresmian gedung sekolah baru, SMPN 88 yang berlokasi di Jl. Anggrek Garuda, Slipi, Jakarta Barat.
Kepala SMPN 88, H. Sayitno, MM mengatakan, “Pertunjukan wayang kulit ini, kita jadikan media edukasi dalam penerapan pendidikan karakter sejak dini. Wayang memiliki nilai-nilai luhur dan nasihat-nasihat yang disampaikan secara implisit melalui alur cerita dan karakter tokoh-tokoh pewayangannya,” tuturnya.

“Sungguh diluar dugaan, pagelaran wayang yang berlangsung kurang lebih 4 jam ini, walau menggunakan bahasa Jawa seluruh penonton tampak tidak bergeming dari tempat duduk mereka menikmati pagelaran ini,” tambahnya.

“Pergelaran wayang memang harus rutin digelar di masyarakat, utamanya di perkotaan dan sebisa mungkin menarik generasi muda maupun anak-anak dengan menyisipkan nilai-nilai dan muatan pendidikan moral melalui lakon yang dimainkan. Diharapkan kedepannya, bisa menjadi filter terhadap dampak globalisasi,” ungkap Pak Chandra, salah satu tamu undangan yang hadir.

Cuaca cukup cerah, diluar dugaan  puluhan penonton tua-muda dan anak-anak dengan mengenakan blangkon ikut ambil bagian menikmati pertunjukan wayang tersebut.
Budaya dan kearifan lokal seperti Wayang Kulit ini memang sudah selayaknya di perkenalkan sejak dini agar anak-anak kita ikut merasa memiliki budaya adhi luhung ini. (Dedik)



Berikutnya
« Prev Post
Artikel Sebelumnya
Next Post »