Kabar Terkini

Iklan

Iklan

EKONOMI

Bogor Raya

Advertising

Iklan

Subscribe Here

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pertengah Tahun 2019 Bakal Terjadi Dampak El Nino Mengancam Pertanian

Dibaca 0 kali



BOGOR (Emsatu.com) - Pemerintah khususnya instansi yang terkait dengan dunia pertanian diharapkan mewaspadai dampak El Nino yang kemungkinan akan terjadi di tahun 2019. El Nino, meskipun kekuatannya masih lemah diperkirakan akan berdampak pada musim kemarau di Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam lokakarya prospek perkembangan El Nino 2019 dampaknya terhadap anomali iklim dan pertanian Indonesia yang diselenggarakan oleh IPB dengan mengundang pemangku kepentingan terkait yaitu Kementrian Pertanian, BMKG, Kontak Tani Nelayan Andalan Indonesia (KTNA), dan sejumlah Lembaga riset dan profesi, di Bogor, Jawa Barat.

Hadir dalam acara, Rektor IPB dr Arif Satria, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian pertanian dr Fadjry Djufry, Deputi bidang klimatologi Herizal, perwakilan kontak tani nelayan andalan KTNA Zulharman jusman, Ketua departemen geofisika dan meteorologi IPB Rahmat Hidayat, Ahmad faqih smart seeds climate export departemen geofisika dan meteorologi IPB dan Balai penelitian argoklimat dan midrologi Harmanto.

Dalam pemaparannya, peluang terjadinya El Nino sebesar 55-60%, sementara 25,5% wilayah berpotensi musim keringnya maju, 24% wilayah keringnya diatas normal dan Juli - September 2019 iklim diperkirakan lebih kering. El Nino-Southern Oscillation (ENSO) merupakan salah satu fenomena Iklim yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan atau anomali iklim di Indonesia.

Fase hangat dari ENSO biasa dikenal dengan istilah El Nino dapat menyebabkan kekeringan panjang. Pengamatan kondisi ENSO pada menjelang akhir tahun 2018 hingga awal tahun 2019 menunjukkan berlangsungnya fenomena El Nino di Samudera Pasifik. Dampak El Nino berupa kemarau dapat berpotensi mengganggu produksi padi pada musim tanam kedua, dan mengubah pola tanam untuk musim tanam berikutnya.

Berkaca pada kejadian El Nino tahun 2015, dampak yang ditimbulkan terhadap pertanian cukup luas. Pada saat itu,  kekeringan melanda 16 provinsi meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan. Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami defisit air sekitar 20 miliar meter kubik. Selain itu, lahan pertanian seluas 111 ribu hektar juga mengalami kekeringan (BNPB, 2015).

Perwakilan KTNA, Zulharman Djusman, mengatakan informasi mengenai prediksi pola hujan sangat penting bagi petani. Melalui informasi yang akurat petani dapat merencanakan penanaman dengan lebih baik dan mencegah gagal panen akibat perubahan iklim. “Kami sangat mengapresiasi peran perguruan tinggi dan private sector yang membangun sistem sehingga petani dapat mengakses informasi mengenai iklim secara lebih mudah,” katanya.

Petani Indonesia saat ini memang dapat memanfaatkan layanan informasi iklim melalui aplikasi SIPINDO Powered by SMARTseeds.  Informasi cuaca iklim dalam aplikasi SIPINDO Powered by SMARTseeds juga dapat diakses melalui SMS secara gratis. Melalui aplikasi dan SMS tersebut petani dapat memperoleh data yang akurat mengenai suhu serta prediksi curah hujan enam bulan ke depan berdasarkan lokasi dimana petani berada. SIPINDO Powered by SMARTseeds sendiri saat ini sudah dimanfaatkan oleh lebih dari 20.000 petani hortikultura di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Sekjen Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) Hindarwati salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak El Nino adalah dengan menanam varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan.

"Peran pemulia tanaman dan perusahaan perbenihan sangat penting untuk memberikan akses terhadap benih unggul yang adaptif di musim kering kepada petani. Beberapa contoh varietas yang adaptif di musim kering saat ini sudah ada, misalnya cabai besar Gada MK F1, cabai keriting Laba F1 dan Lado F1, tomat Tymoti F1 dan labu Suprema F1," jelasnya. (MTH)

Berikutnya
« Prev Post
Artikel Sebelumnya
Next Post »